Juni 15, 2020
Januari 04, 2020
PESONA BUMI ANIM-HA (PART.1)
Sebuah Perjalanan baru
membawa saya menuju Bumi Anim-Ha. Bumi Anim-Ha yang dalam bahasa Marind Anim
yang berarti “ Manusia Sejati “ adalah julukan/sebutan
bagi Kab.Merauke yang disebut-sebut dalam syair lagu nasional yang terletak di
sisi selatan Provinsi Papua terhampar
46.791,63 km persegi dengan luas perairan 5.089,71 km persegi. Malind Anim adalah suku yang menjadi tuan rumah
di tanah datar ini. Mereka menghuni empat penjuru mata angin dengan tujuh marga
besar yakni Gebze, Kaize, Samkakai, Ndiken, Mahuze, Bragaize, dan Basik-basik.
Di kabupaten ini terdapat 7 (tujuh) Kawasan KSA/KPA, dimana 6 (enam)
diantaranya adalah kawasan konservasi ( 1 Cagar Alam dan 5 Suaka Margasatwa)
dan 1 adalah Taman Nasional Wasur. Hal ini membuktikan bahwa tempat ini
memiliki pesona alam yang tidak kalah indahnya dengan daerah lainnya di
Indonesia.
Sebuah ciri khas dari Perjalanan di Bumi Animha
dan sekitarnya jika menggunakan perahu baik speedboat
maupun longboat adalah perjalanan
kita akan terpengaruh dengan pasang surut air laut. Dimana ada jam-jam tertentu
yang perlu diperhatikan untuk dapat keluar dan masuk ke suatu pulau. Umumnya
air laut akan surut mulai dari pukul 02.00 WIT Pagi dan Pasang kembali pukul
09.00 WIT Pagi ( di sisi utara pulau kimaam dan sekitarnya) namun pada sisi
selatan yang bersentuhan langsung dengan laut justru sebaliknya air akan
menjadi surut pada pukul 08.00 – 09.00 WIT Pagi dan akan kembali pasang mulai
pukul 14.00 WIT Siang – Subuh. Bagi
masyarakat yang bermukim pada
pulau-pulau di Selat Mariana dan sekitarnya tentunya sangat memahami hal ini
dan harus pintar-pintar membaca waktu dan cuaca karena bisa saja jam-jam air pasang
surut ini berubah di hulu dan hilir. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri
dalam perjalanan kami dan menjadi
pengalaman yang tidak terlupakan tentunya.
Kali ini perjalanan menjelajah alam membawa tim
kami ke 3 ( tiga) Pulau kecil di sisi barat daya Kab.Merauke dengan mengarungi
Selat yaitu Selat Mariana, nama yang cantik untuk sebuah selat tetapi tidak
dengan arus dan ombaknya. Selat ini dikelilingi oleh 4 (empat) Suaka Margasatwa
cantik dan 3 (Tiga) di antaranya adalah : Suaka Margasatwa Pulau Komolom, Suaka
Margasatwa Pulau Savan dan Suaka Margsatwa Pulau Pombo . Agar dapat sampai ke
tempat ini memerlukan beberapa kali pergantian alat transpotasi. Perjalanan
dimulai dari Jayapura dengan menggunakan Pesawat ke Merauke, lalu dilanjutkan
dengan pesawat caravan dari Kota Merauke ke Distrik Kimaam dan Dari Distrik
Kimaam dilanjutkan dengan jalur laut menggunakan speedboat menuju ke kawasan suaka margasatwa ini. Ketiga nama pulau
ini pun masih terasa asing bagi beberapa kalangan masyarakat yang tinggal di
Kota Merauke padahal menyimpan pesona keanekaragaman hayati yang begitu indah.
v PULAU KIMAAM
Pulau Kimaam terpisah dengan daratan Merauke, terletak di sebelah selatan Papua. Pulau ini ditemukan warga Belanda, Frederik Hendrik. Orang setempat menyebut pendduduknya Suku Marind Sub Suku Khima-Khima. Sedangkan Selat Mariana adalah nama pemberian sir,Hendrik. Setelah indonesia masuk, nama pulau ini berubah menjadi Pulau Yos Sudarso, salah satu angkatan laut yang gugur di Laut Arafura .
Sebelum menuju ke pulau-pulau tersebut kami transit dan menginap di Kimaam selama 1
( satu ) hari sambil mempersiapkan berbagai bahan kontak untuk persediaan kami selama di pulau nanti. Kimaam adalah salah satu distrik dari Kab.Merauke yang sudah ada sejak zaman penjajahan belanda. Di daerah ini sinar matahari cukup terik dan merupakan salah satu lumbung padi bagi Kota Merauke dan sekitarnya. Kita akan menjumpai banyak sawah milik masyarakat disini. Mayoritas masyarakat yang hidup disini adalah berburu, mencari dan bertani. Selain itu juga fasilitas pendidikan, kesehatan dan ekonomi sudah lengkap dan tersedia di kimaam,Pasokan Listrik menyala dari jam 6 sore – 12 malam dan dari jam 6 pagi – 12 siang. Keamanan pun terjaga karena ada pos penjagaan TNI . Selain Fasilitas Bandara Kimaam pun memiliki Pelabuhan sehingga Kimaam menjadi pintu akses di selatan dan salah satu pusat kegiatan dan tempat transit untuk berdagang bagi masyarakat yang membawa hasil dari pulau-pulau untuk dijual disini. pada sore-sore tertentu masyarakat akan membawa hasil dari laut untuk dijual di pinggir jalan berbagai ikan sungai hingga kepiting segar dijual atau kadang daging rusa pun dijual untuk dikonsumsi warga.
Kimaam juga menjadi salah satu tempat pelarian yang dipilih oleh orang-orang dari Kota Merauke untuk sejenak beristirahat , di sini sudah banyak penginapan dan didatangi oleh berbagai latarbelakang, dan ada pula yang menyediakan jasa WiFi. Sinyal telepon juga sangat bagus. Fasilitas pendidikan juga sudah lengkap mulai dari TK Hingga SMA dan SMK. Banyak anak-anak dari kampung yang datang dan bersekolah di Kimaam.
Sebelum menuju ke pulau-pulau tersebut kami transit dan menginap di Kimaam selama 1
( satu ) hari sambil mempersiapkan berbagai bahan kontak untuk persediaan kami selama di pulau nanti. Kimaam adalah salah satu distrik dari Kab.Merauke yang sudah ada sejak zaman penjajahan belanda. Di daerah ini sinar matahari cukup terik dan merupakan salah satu lumbung padi bagi Kota Merauke dan sekitarnya. Kita akan menjumpai banyak sawah milik masyarakat disini. Mayoritas masyarakat yang hidup disini adalah berburu, mencari dan bertani. Selain itu juga fasilitas pendidikan, kesehatan dan ekonomi sudah lengkap dan tersedia di kimaam,Pasokan Listrik menyala dari jam 6 sore – 12 malam dan dari jam 6 pagi – 12 siang. Keamanan pun terjaga karena ada pos penjagaan TNI . Selain Fasilitas Bandara Kimaam pun memiliki Pelabuhan sehingga Kimaam menjadi pintu akses di selatan dan salah satu pusat kegiatan dan tempat transit untuk berdagang bagi masyarakat yang membawa hasil dari pulau-pulau untuk dijual disini. pada sore-sore tertentu masyarakat akan membawa hasil dari laut untuk dijual di pinggir jalan berbagai ikan sungai hingga kepiting segar dijual atau kadang daging rusa pun dijual untuk dikonsumsi warga.
Kimaam juga menjadi salah satu tempat pelarian yang dipilih oleh orang-orang dari Kota Merauke untuk sejenak beristirahat , di sini sudah banyak penginapan dan didatangi oleh berbagai latarbelakang, dan ada pula yang menyediakan jasa WiFi. Sinyal telepon juga sangat bagus. Fasilitas pendidikan juga sudah lengkap mulai dari TK Hingga SMA dan SMK. Banyak anak-anak dari kampung yang datang dan bersekolah di Kimaam.
( Gambar.1. Suasana pagi di Distrik Kimaam)
( Gambar. Suasana Senja Distrik Kimaam, dengan latar sawah milik transmigran )
(Gambar. Jenis pesawat yang digunakan adalah ATR, dari Susi Air)
( Gambar. Pasar sore di Kimaam, Cari seafood segar tidak akan susah dan super murah )
Inti dari ritual ini mengajarkan soal kerja keras dan memenuhi kebutuhan keluarga. Festival ini diadakan pada pertengahan Tahun sekitar Juli-Agustus, jarang ada info pasti jadi kita yang harus lebih update informasi kalau ingin menyaksikan festival ini. Saya kemaren belum sempat menyaksikannya, semoga di lain waktu bisa berjodoh dengan festival ini.Info lebih lanjut bisa di cari di beberapa sumber di internet .
Well, Sekian sedikit bahasan soal Kimaam, dan Setelah mendapatkan kontak driver/motoris kami dan membuat janji dengan masyarakat yang akan mengantarkan kami ke pulau, esok paginya sekitar pukul 08.00 WIT pagi kami bergegas menuju dermaga saat air mulai pasang dan mulai keluar dari Kimaam menuju Pulau Tujuan Kami. Selain Mempersiakan diri, alat dokumentasi, barang tim, tentunya kita perlu menyiapkan parang karena meskipun kita melewati rawa yang airnya sudah pasang ,tetap saja pasti akan tersangkut di beberapa titik sehingga alat pemotong seperti parang sangat penting untuk disiapkan dalam perjalanan seperti ini.
Demikian Part.I Pesona Bumi Anim-Ha , sampai jumpa di Part.II dimana perjalanan sesungguhnya dimulai.
Kritik, saran dan masukan kalian sangat berharga bagi kemajuan tulisan -tulisan ini..
Semoga menginspirasi dan menggugah selera kalian untuk berpetualang..
Januari 30, 2019
MEMBELAH MAMBERAMO DARI HULU KE HILIR ( BAG.1)
MEMBELAH MAMBERAMO DARI HULU KE HILIR
( BAG.1) (Oleh : Febspiration)
Perjalanan kali ini dalam
rangka kunjungan kerja namun saya sekalian menuliskan pengalaman saya dari sisi
lain secara emosional bagaimana kampung-kampung yang saya kunjungi ini
menggungah hati saya lewat perjalanan kali ini dan tentunya harus saya bagikan
apalagi bagi mark yang ditag orang-orang bahwa ini adalah tempat yag berbahaya
dst, saya katakan tidak juga kok. Berhubung saya menghitung ada 10 kampung yang
saya kunjungi maka akan dibagi dalam 2 ( dua ) sesi. Selamat menikmati
Ø DABRA
Kampung pertama yang
menjadi start point perjalanan ini adalah Dabra. Terletak di sisi selatan
Kabupaten Mamberamo Raya dan merupakan salah satu kampung/ desa dengan ciri
kekotaan dan tentunya memiliki fasilitas bandara selain kasonaweja.
Pusat kota yang ramai ( untuk skala pedalaman yah ), ada
pasar 2 kali seminggu, bangunan rumah rata-rata masih menggunakan kayu ( rumah
papan) karena posisi yang dekat sekali dengan sungai ( kearifan lokal yah ini
bukan karena tidak mampu membangun rumah dari batu tela ),lalu untuk skala
pendatang ( orang dari luar papua ) cukup banyak disini untuk kepentingan
berdagang terutama saudara-saudara kita yang berasal dari sulawesi. Untuk cuaca
saya pastikan anda membutuhkan kipas angin yang besar di siang hari dan di
malam hari kita diajak berperang melawan nyamuk mamberamo. Untuk air bersih
bagi kebutuhan sehari-hari disini sangat teramat melimpah , jadi selagi ada di
Dabra mandilah sesering mungkin karena kita tidak akan menemukan air sebersih
ini di mamberamo karena posisinya pusat kotanya memang dekat dengan pegunungan
dan untuk listrik masih bersumber dari genset yang dimilki oleh masing-masing
rumah penduduk dan ini momen yang pas untuk mengisi daya segala macam alat
elektronik terutama Handphone dan kamera anda.
Satu keunikan yang saya suka dari dabra adalah disini
menyediakan fasilitas WI-FI dengan
sistem membeli voucher dan
tarifnya per jam seharga 30 ribu rupiah dan yang aneh adalah
meskipun ada WI-FI disini tidak ada sinyal/ jaringan telepon per desember 2018, hal ini memang masih
menjadi misteri bagi saya sampai saat ini. Begitulah.. saya menikmati sekali
kehidupan di dabra selama 2 malam saya disini, saya merasa cocok dan kulit saya
sudah mulai penyesuaian dengan cuaca siangnya. Sungai yang mengalir ke Dabra
adalah Sungai Tariku jadi belum merasakan “ sungai mamberamo” disini.. karena
aliran sungai disini sangat tenang .
TIPS : Sebelum keluar dari Dabra sebaiknya mandi sebersih
mungkin dan segala keperluan ke belakang silakan diselesaikan disini sebelum
benar-benar menuju arah mamberamo.
( Kampung orang papasena di Dabra )
Ø KALI DORMAN
Posisi sungai mamberamo yang berkelok-kelok banyak memiliki
cabang anak sungai ke berbagai arah dan bisa bertemu kembali ke sungai besar
lalu terpecah-pecah lagi begitu seterusnya , jadi kadang kita bisa tersesat di
sungai ini. Well pada hari kedua kami sempat mengunjungi sebuah kali yang super
duper jerrrnihhhhhh sekali , saya juga tidak percaya sampai lihat sendiri
karena warna airnya berbeda 180 derajat dengan warna sungai yang saya tunjukkan
di gambar sebelumnya hal ini dikarenakan lokasinya masih berada di areal hulu
mamberamo sehingga melimpah dengan air bersih.
Untuk mencapai kali dorman dibutuhkan waktu sekitar 25-30 menit dari
Dabra menggunakan speed boat dengan mesin 40 PK . Memasuki celah-celah
alang-alang ( sejenis tebu air ) terlihat jelas perubahan warna air yang begitu
jernih dan sangat segar dan tentunya bisa mandi disana tanpa khawatir ada buaya
. Kali Dorman sangat berpotensi menjadi sumber air minum masyarakat sekitar
hanya saja belum ada fasiltas yang menjangkau kesana.
Ø MUARA PAKUJA
Hari Ke-3 kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu
tempat transit kami . kampung kecil di pinggiran sungai bernama Muara Pakuja,
yang letaknya ada di pertigaan sungai
besar sebelum memasuki “ aliran mamberamo “ . Perjalanan dari Dabra –
Pakuja membutuhkan waktu sekitar 4-5 Jam dengan Speed Boat , 2 mesin yang
masing-masing berkapasitas 40 PK. Dari Dabra kami membawa satu orang tambahan
di dalam tim kami, beliau bernama pak klemens merupakan salah satu pegawai
kontrak dari kantor kami, beliau asli orang Dabra dan manyebrangi mamberamo sudah menjadi
makanan beliau sehingga kami aman .
Sebelum menginap kami meminta ijin kepada kepala desa
setempat untuk numpang menginap di tempat warga selama 1 malam. Kami diberikan
1 pondok/ Bivak di pinggir sungai, cukup untuk kami berteduh malam ini. Bivak
tanpa pintu dan jendela, bersatu dengan alam sudah menjadi kenikmatan sendiri
dari pekerjaan ini.
Setelah sauna di selama 4,5 jam di sungai akhirnya kami
tiba tepat jam 4 sore , setelah mendapatkan tempat istrihat untuk ber-delapan,
langsung memasak air panas dengan air mamberamo yang jangan ditanya lagi
seperti apa kualitasnya, kami harus beradaptasi dengan kondisi setempat bukan,
dan dengan modal kayu api jadilah gelas-gelas berisi kopi dan teh panas dan hujan yang menemani
kami dan Saya paling menikmati sore di tempat ini, entah kenapa
TIPS : Di Muara Pakuja bisa mendapatkan sinyal telepon
dengan cara menurunkan kualitas jaringan yaitu dari 4G/3G ke 2G.
(Matahari pagi muara pakuja menyambut keberangkatan kami
menuju telaga korwate)
Ø TELAGA KORWATE
Dari Muara Pakuja setelah menginap semalam di bivak,
pagi-pagi sekali kami memutuskan untuk packing lagi dan berpindah menuju ke
kwerba namun singgah sebentar ke telaga korwate untuk mengambil data. Kali ini
kami menggunakan dua perahu yaitu 1 perahu speed boat yang mengangkut kami dari
Dabra dan 1 lagi perahu kayu tanpa semang yang kami sewa dari salah satu
penduduk muara pakuja untuk menemani kami memasuki telaga korwate nanti.
Sesuai dengan namanya , ini adalah telaga di dalam salah
satu aliran anak sungai mamberamo, dan mengapa kami membawa dua perahu , karena
untuk memasuki telaga ini hanya cukup dengan 1 perahu kayu ramping tanpa semang
dan lebih efektif mengambil data karena jalannya lebih pelan menggunakan mesin
15 PK. Well, yah pertama kami memang menggunakan boat yang besar menyusuri
sungai lalu ketika berada di persimpangan sungai untuk memasuki telaga, yah
benar sekali kami harus mengganti perahu dengan cara mentransfer diri kami dan
barang-barang di atas sungai. Jadi kami harus memindahkan diri kami
masing-masing ke perahu kecil tesebut dimana memang tidak ada daratan di
sekeliling kami yang memungkinkan untuk bersandar karena tentu saja kalaupun
ada itu adalah tempat berjemur para buaya muara yang mungkin siap menyambut
kami sebagai sarapan kalau kami nekat transfer di pinggiran rawa.
This
is totally made me nerveous and panic at that time, but this is worth it.
( Posisi
yang pas untuk menyeimbangkan diri , perahu sepanjang 5 meter ini memuat 11
orang di dalamnya, jadi bayangkan sendiri bagaimana harus cari posisi enak buat
duduk selama 1 jam memasuki telaga )
(
Resiko saat memasuki telaga saat musim hujan adalah banyaknya kayu dan pohon
tumbang yang menyambut kami , inilah saat parang /golok diberdayakan)
( Ini ekspresi tidak saya buat-buat sih memang betulan
gugup dan takut, kesalnya adalah malah tertangkap kamera teman dan Tentunya air
mata saya sudah dipinggir-pinggir karena kalau saya jatuh, entahlah bagian mana
yang siap disambut sama buaya ).
kami tiba pukul 8 pagi dan perjalanan kami dari titik transfer menuju
telaga kurang lebih 1 jam perjalanan dan disambut dengan banyak kayu dan pohon
tumbang. Tapi ini adalah salah satu highlight of the journey. Rasa takut saya
seketika hilang karna kali ini saya terharu biru menyaksikan tempat yang memang
layak disebut surga kecil yang jatuh ke bumi. Damai sekali, sangat damai disini
.Tuhan , Terlalu Indah Mahakarya Mu
saya merasa begitu kecil di hadapan semesta alam , ada ratusan burung menari di atas kepala kami
menyambut kedatangan tamu mereka pagi itu. Kalau pernah menonton Film Anaconda
jaman tahun 90’an, well kira-kira seperti itulah gambaran memasuki wilayah
telaga ini hanya tak ada Anaconda, tapi buaya dan jutaan ikan. Tentunya bagi
para peneliti ini adalah surga , tak hentinya kamera terus berbunyi
mengabadikan setiap momen . Kami beberapa kali sempat harus turun dan bertahan
di atas potongan batang kayu karena perahu tidak mampu lewat jadi harus
didorong, perjuangannya sangat besar untuk sampai ke telaga korwate, setelah melewati
sungai kecil ini selama 50 menit, tiba-tiba di depan kami disambut sebuah telaga
besar yang sangat-sangat indah.
(Penampakan telaga korwate )
Setibanya di pinggiran telaga kami langsung bergegas dengan
tugas kami masing-masing selama kurang
lebih 2 jam, dan disini jangan ditanya berapa banyak nyamuk yang ada.
Siapkan diri anda untuk diserang, dimana nyamuk menemukan kulit untuk di serang
maka akan keluar dengan banyak bentolan di kulit, bahkan konon katanya saat
kita sedang buang air besar pun mereka akan tetap ada disana menggangu
ketentraman kita. Begitulah..
Setelah kami selesai melaksanakan tugas kami kembali ke
titik transfer dan kembali pindah lagi ke boat yang lebih besar dan melanjutkan
perjalanan kami ke kampung kwerba.Perjalanan ke Kwerba, Kasonaweja dan Burmeso
akan lanjut di Part berikutnya. Terimakasih sudah dengan sangat baik dan sabar
membaca sebagian kecil dan petualangan saya. Semoga bermanfaat atau setidaknya
menghibur kalian . sampai ketemu di part berikutnya J
Januari 28, 2019
MAMBERAMO “ PETUALANGAN MENEMBUS NEGERI LEMBAH SUNGAI ( PART.1)”
Petualangan saya kali ini menembus salah satu Jantung
Hutan Tanah Papua dari hulu ke hilir menjelang akhir tahun 2018. Yah ,
Mamberamo salah satu tempat impian saya bertualang akhirnya terwujud di
penghujung tahun. Mamberamo sebuah negeri yang dibelah oleh ratusan sungai
kecil dan besar memadukan keindahan alam. Mahakarya Tuhan yang sungguh luar
biasa. Nama "Mamberamo" konon berasal
dari bahasa Dani, mambe yang berarti
"besar" dan ramo yang berarti
"air". Suku Dani dan beberapa suku terasing lainnya bermukim di
lembah sungai ini yang kaya akan keanekaragaman hayati ini.Ciri yang
paling khas dari mamberamo jika dilihat dari pesawat adalah banyak mempunyai
kelokan (meander) serta danau tapal kuda (oxbow
lake) sebagai hasil perpindahan alur sungai.
( Pemandangan lekukan sungai mamberamo dari ketinggian 500-600 mdpl)
( Pemandangan lekukan sungai mamberamo dari ketinggian 500-600 mdpl)
v MODA TRANSPORTASI
Secara
administrasi Kabupaten Mamberamo Raya secara geografis terletak antara 137° 46
- 140° 19 Bujur Timur (BT) dan 01° 28 - 3° 50 Lintang Selatan (LS). Kabupaten
ini mempunyai luas wilayah sebesar 31.136,85 Km2. Tidak
seburuk kedengarannya kok ketika mendengar punya saudara atau teman yang
bekerja disini karena untuk mencapai kabupaten ini tersedia transportasi baik
dari darat, laut dan udara, hebat kan . berhubung saya berangkat menggunakan
transportasi udara maka saya akan mulai membahas dari jalur udara.
·
JALUR UDARA
Berhubung
keberangkatan dikarenakan urusan pekerjaan maka kali ini saya pergi bersama tim dengan jumlah personil
7 orang . Pekerjaan ini dikejar deadline maka diputuskan untuk menyewa/ carter
pesawat . woww (Ini hal yang sangat lumrah di papua, gaes ). Kami menyewa
pesawat kecil milik YAJASI seri
Pilatus PC 6 Kapasitas 8 orang ( 7 anggota Tim dan 1 Pilot ). Ada banyak
pesawat yang bisa dicarter bisa dari AMA, MAF, Tariku Air, Suzy air dan Alfa
Trans. Sependek pengetahuan saya, pesawat-pesawat ini hanya akan mendarat di 2
kampung besar ( dengan ciri kekotaan) di mamberamo raya, yaitu di Dabra dan
Kasonaweja.
Sistem penyewaan pesawat
ini sedikit menyebalkan dibanding penerbangan domestik pada umumnya, berhubung
pesawat ini akan mejadi kendaraan pribadi selama beberapa jama maka secara
garis besar, kita harus memesan penerbangan terlebih dahulu dan memastikan
tanggal keberangkatan yang dikehendaki beberapa hari sebelumnya, beruntung
apabila tidak masuk dalam daftar tunggu. Boleh saya katakan frekuensi pesawat
ke kabupaten ini cukup tinggi,jadi harus cepat memesan penerbangan pribadi
kita. Well, setelah memesan, sehari sebelum tanggal keberangkatan penumpang
diwajibkan membawa bagasi masing-masing untuk ditimbang, kemudian menimbang
berat badan dan tentunya kami membawa logisitik dan peralatan tim untuk
perjalanan ini. Total timbangan bisa berbeda tiap penerbangan, pada
pernerbangan kami total timbangan kurang lebih 780 Kilogram, well kami
melakukan trip selama hampir 12 hari sehingga timbangan segitu terhitung wajar.Petualangan
pun dimulai dari kota sentani menuju Dabra, Distrik Mamberamo Hulu yang menjadi
start point perjalanan kami. Sedangkan untuk biaya penyewaan pesawat pilatus
tadi dibanderol dengan harga 25 - 30 Juta rupiah, tergantung jumlah penumpang,
berat bagasi dan jauhnya tujuan .
Jika
tidak dikejar deadline, alangkah manisnya memilih penerbangan domestik , yang
hanya dibuka di bandara sentani-jayapura tujuan Kasonaweja dengan maskapai
penerbangan suzy air dan alfa trans. Biaya sekali terbang sekitar 2,5-3,5 Juta
Rupiah , harga tergantung maskapai dan koneksi yang kalian punya dengan pihak
bandara. Jadwal pesawat domestik menuju
kasonaweja seminggu 2x pada hari rabu dan jumat ( data per desember 2018)
·
JALUR LAUT
Tentu
jika kalian tidak terburu-buru, memiliki budget terbatas atau barang bawaan
melebihi kapasitas dan harga pesawat, maka jalur laut bisa menjadi alternatif
berikutnya. Kapal memang merupakan transportasi sejuta umat terutama Indonesia
Bagian Timur. Jalur kapal yang masuk ke Jayapura
( berhubung saya taunya dari sini ) menuju Kasonaweja hanya ada seminggu 1x. Masyarakat lebih senang menyebutnya “ kapal cepat” . Ada 3 KM yang melayani Rute ini yaitu KM.Fajar Indah, KM.Chantika, KM.Lestari Abadi
(Sepertinya KM.Chantika sudah jarang beroperasi). Saya pribadi belum pernah mencoba, hanya melihat dari luar saja. Boleh dikatakan cukup nyaman untuk perjalanan 10-12 Jam ditengah gelombang samudera. Biaya Tiket kapal berdasarkan hasil penelusuran di dunia maya dibanderol sekitar 275 ribu rupiah saja jika dibanding harga tiket pesawat versi lintaspapua per juli 2018 . Selain dari Jayapura ada banyak rute kapal yang masuk ke pelabuhan kasonaweja dan burmeso. Ada dari Serui dan bahkan ada yang berasal dari makassar. Daebakk
( Ini contoh kapal barang yang masuk di dermaga burmeso, bukan kapal penumpang yah )
( berhubung saya taunya dari sini ) menuju Kasonaweja hanya ada seminggu 1x. Masyarakat lebih senang menyebutnya “ kapal cepat” . Ada 3 KM yang melayani Rute ini yaitu KM.Fajar Indah, KM.Chantika, KM.Lestari Abadi
(Sepertinya KM.Chantika sudah jarang beroperasi). Saya pribadi belum pernah mencoba, hanya melihat dari luar saja. Boleh dikatakan cukup nyaman untuk perjalanan 10-12 Jam ditengah gelombang samudera. Biaya Tiket kapal berdasarkan hasil penelusuran di dunia maya dibanderol sekitar 275 ribu rupiah saja jika dibanding harga tiket pesawat versi lintaspapua per juli 2018 . Selain dari Jayapura ada banyak rute kapal yang masuk ke pelabuhan kasonaweja dan burmeso. Ada dari Serui dan bahkan ada yang berasal dari makassar. Daebakk
( Ini contoh kapal barang yang masuk di dermaga burmeso, bukan kapal penumpang yah )
·
JALUR DARAT
Tentu jika anda tidak punya hal
lain untuk dikerjakan dan tidak diburu apapun , jalur darat pun layak dicoba
dan tentunya lebih ekstrim dan hanya bagi yang berjiwa petualang dan adrenalin
tinggi. Untuk cost,sejujurnya lebih mahal sedikit dari kapal namun tidak
semahal pesawat ,kurang lebih 500
ribu rupiah untuk menyewa “travel” ala mamberamo ini kalau banyak orang yang
pergi, tapi kalau hanya 1 orang lebih baik naik pesawat karena harganya 11 12 .
Jalur yang ditempuh dari Jayapura- Sentani- Sarmi – Mamberamo Hulu ( Kampung Pagai
dan Naira ). Tersedia jalur darat yang hanya mampu dilewati oleh mobil Tipe
Strada triton selama 1 malam perjalanan . Tiba di Pagai atau Naira , silakan
melanjutkan anda menggunakan jalur Sungai menuju kampung tujuan . Sejauh
pengamatan saya kemaren memang sudah ada jalur darat yang tembus dekat dabra
sebagai bagian dari jalur Trans Papua namun masih berupa tanah lumpur dan masih
terhambat pembangunannya akibat konflik tanah adat.
Ketiga
jalur ini hanyalah fasilitator untuk sampai ke mamberamo, namun untuk melewati mamberamo yang sebenarnya kita harus
menggunakan jalur lain yaitu “ JALUR SUNGAI” . Jalur ini akan banyak dibahas di
Part berikutnya, mohon bersabar J
v PERALATAN YANG WAJIB DIBAWA
Berbagai persiapan perlu
dilakukan untuk perjalanan panjang selama saya di mamberamo, sayangnya adalah
saya Cuma siap dalam 1 malam saudara-saudara. Betapa kelabakannya saya karena baru
dikonfirmasi keberangkatan menggantikan atasan saya yang batal berangkat dua
hari sebelumnya.
( Prosesi Packing dalam beberapa jam )
( Prosesi Packing dalam beberapa jam )
Dengan pengetahuan dan masukan dari para senior yang tentunya sudah melalang buana di hutan mamberamo ini maka saya membawa semua kebutuhan yang diperlukan sampai yang tidak terpakai akhirnya . Well, untuk wanita tentunya lebih repot terutama untuk menggeluti pekerjaan di lapangan seperti ini. Kebutuhan dasar seperti logistik sudah ditanggung oleh panitia kegiatan, saya lebih fokus untuk sharing bawaan pribadi antara lain :
·
membawa 2 buah tas ,1 carrier 45 Liter dan 1 Dry Bag 20 Liter
·
kantong zipper mirip sarung bantal namun diisi dengan baju
sekalian pengganti bantal tidur. ( tidak sengaja dapat dari toko online ).
Kalau tidak punya bisa diakali dengan kantong bening kedap udara yang banyak
dijual di toko. Pakaian bisa tetap kering dan tidak terlalu bau. cuaca mamberamo sangat panas jadi sebaiknya jangan membawa baju yang tebal atau berwarna gelap.
·
Wajib
bawa kelambu. Ratusan nyamuk mamberamo siap menyambut darah segar kalian
kapanpun dimanapun , apalagi di malam hari dan saat masuk hutan.
·
Obat-obatan
pribadi dan vitamin. Saya pribadi meminum 2 tablet
anti malaria dari Jayapura demi mencegah DBD . Kemudian krim anti nyamuk lebih
baik dibawa kemanapun kalian pergi.
·
Sepatu
bot wajib hukumnya kalau untuk pekerjaan lapangan + Jas Hujan jika bekerja di
musim penghujan .
·
Topi
dan scraft/buff pelindung kepala dan leher karena matahari mamberamo tidak
memberikan ampun pada kulit anda dan Jaket + Kaos Kaki.
·
Body
Lotion/cream dengan SPF Tinggi wajib dipakai jika tidak mau terkena kanker
kulit. Suhu siang di mamberamo bersiar 32-35 derajat celcius bos.
·
Pisau
lipat wajib bawa.
· Senter atau Headlamp
· Sleeping bag ( kantong tidur )
· Sandal Gunung
· Senter atau Headlamp
· Sleeping bag ( kantong tidur )
· Sandal Gunung
·
Selebihnya
barang tim untuk penelitian kami di hutan.
Terimakasih sudah membaca, sampai bertemu di part. II yang lebih seru yaitu perjalanan menyusur sungai dari hulu ke hilir mamberamo.
Juli 01, 2018
“BACKPACKERAN MAHAL KE WAMENA ?” Part.3
“BACKPACKERAN
MAHAL KE WAMENA ?” Part.3
Okika…..O Wamena…,
Wene ka werek…, yogo sasike….
Okika…. O Wamena…..
Yogo tak nen, keuk sak motok…..
O wuka luwuk nite werugun......
Lagu itu menceritakan tentang adanya berita
yang harus disampaikan ke kota Wamena, berharap kota yang dulunya dikenal
sebagai kota yang rusak akibat kerusuhan dapat dibangun kembali.
Nah,melanjutkan kisah dari perjalanan saya pada hari ke -2 di tulisan
backpackeran mahal ke wamena part.2 kembali pada kota yang dingin dan sejuk
namun juga panas untuk ukuran daerah pegunungan
·
AIR TERJUN NAPUA & KEBUN RAYA
BIOLOGI
Setelah kami
beranjak dari batas batu dan danau habema sekitar pukul 14.00 WIT kami kembali
melanjutkan perjalanan menuju air terjun yang berada di Napua yang
direkomendasikan oleh orang rental yang mengantar kami, Wamena yang ternyata
pada hari minggu itu cukup banyak orang yang sedang berwisata disana. Kami tiba
pukul 15.00 WIT di area yang disediakan sebagai tempat parkiran dan membayar
tiket masuk sebesar 10 ribu rupiah per orang .Lokasi air terjun napua harus
ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 500 meter menyusuri semak-semak jalan menurun, sesaat sebelum kami sempat
melangkah turun ,naiklah segerombolan wisatawan yang habis mandi dan saya
bergumam sendiri “masih jam 3 sore tapi orang sudah pada pulang, aneh “.
Beberapa orang yang berpapasan dengan kami sempat menggerutu “ kita dilempar”,
“ itu dibawah ada orang lempar-lempar” .Saya langsung kaget lah, terus bingung
terus balik arah ke seorang gadis remaja yang tadi menerima uang tiket yang
sudah sayar bayar untuk 5 orang seharga 50 ribu rupiah, “ adik, bisa temani
kita ke bawah ka ?” , “ dong bilang ni ada orang yang lempar-lempar di bawah “,
dan si adik menjawab “nanti, biar mama saja yang ikut kaka dong ke bawah”, ok
baiklah. Setelah si ibu muncul yang terlihat adalah si pemilik tempat tersebut
memimpin barisan rombongan kami turun demi melihat air terjun yang
dielu-eleukan si mas supir sejak kami balik dari habema tadi, sehingga kami
bertiga pun juga semangat ke sana. Sepanjang jalan turun kami masih bertemu
orang-orang yang mengeluhkan kejadian di bawah sana dan mengadu kepada si ibu
pemilik tempat. Saya juga rada gugup karena bisa saja kena lempar batu dari
warga yang dibawah, tapi karena sudah bayar well saya pun juga gak mau rugi
dong ya..Demi Air Terjuuuuuuuun.... J
Terlihat sudah ada
tangga berwarna biru yang dibangun untuk akses turun ke bawah dan ada jembatan
kecil yang bahkan su dipasangi atap, juga ada pondok kecil tempat beristirahat
di samping. Ketika si ibu atau “ mama”
yang punya lokasi tersebut turun dan menemukan orang-orang yang diyakini
melempar batu kepada warga, saya pun yang hanya berani melihat dari jauh juga
ikut penasaran seperti apa perawakan mereka, sementara teman saya yang satu
sudah berdiri tepat di belakang si mama melihat para tersangka yang ternyata
adalah anak-anak kecil . Whaaatttt ?? untuk ukuran anak kecil mereka bukan lagi
termasuk jahil sih tapi apa ya saya rada malas berkata kasar di tulisan
ini.pokoknya itulah yang kalian tahu dan
batu yang dilempar seukuran kaleng-kaleng rokok yang yah lumayanlah kalau kena
bahu atau kepala bisa geger kali ya.. -__-, dan kata si mama mereka bukan dari
daerah situ mereka datang dari luar wamena. Hmmm...
| Air terrrjuuunnnnnnnnnn |
saya cukup kesal
meskipun bukan saya yang menjadi korban pelemparan. Masih dengan sedikit kesal
saya sibuk mencari dimana air terjun yang dimaksud di mas-mas tadi . saya
saling tatap dengan adik kami yang ikut dalam perjalanan dan bertanya “ Air
Terjunnya mana ,em ?”, “ Tratau ya kaks”, saya tanya lagi ke mas-masnya “ mas,
air terjunnya mana, masih jauh jalan lagi kah ?” and with flat face he said “
ini mbak, di depan kita ini air terjunnya” .
dan yang terlihat di depan mata saya adalah kumpulan batu dengan aliran
air lebih mirip kali kecil dengan debit yang super pelan “. That was like GUBBRRAAAKKK !! what ? “ini mah bukan air
terjun, ini kali pak. Mungkin kali masih lebih deras dari yang saya lihat.
Well, zonk sih dapat spot ini., kami cuma 5 menit disini dan langsung
memutuskan untuk kembali , ditambah dengan kelelahan karena perjalanan yang
jauh hari ini dengan berbagai adrenalinnya ( baca di part.2) meskipun saya coba
untuk positive thinking debit “air terjun” nya sedang surut karena musim
kemarau dan mungkin akan lebih deras sewaktu musim penghujan buktinya saja
memang tadi banyak orang yang mandi disini dari siang hari.
( gambar kali
spanggal di napua )
Setelah mendaki kembali ke tempat parkir dengan napas tersengal-sengal dan kehilangan 50 ribu dengan percuma kami akhirnya memustuskan untuk pulang saja karena sudah capek meskipun jam waktu itu masih pukul setengah empat sore dan rasanya juga sayang kalau sudah bayar mobil mahal-mahal ( baca di part.1 ) dan tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Akhirnya demi menghibur kami yang tak jadi melihat air terjun kami pun diajak cerita bahwa di sekitar situ ada sebuah sekolah yang memiliki kebun strawberry dan dapat dicek sana , namun sayang kami tidak mampir kesana , dan sempat ingin di kali besar yang terletak di pinggir jalan yaitu kali Baliem yang memang membelah lembah Baliem , saya langsung minta mobil dipinggirkan karena saya pengen foto di spot itu karena melihat salah satu instagrammer lokal yang ngehits foto di spot itu juga jadi saya juga ingin foto disana, dan sesaat setelah pintu mobil terbuka dan kami mau menyeberang untuk motret,dari arah yang lain muncul segerombolan orang yang mungkin sedang ingin pulang jalan sore , oh iya di daerah pegunungan orang-orang sangat suka berjalan kaki memikul hasil kebun atapun bergerombolan jalan sore hari pagi hari siang hari dengan koteka kadang juga ada, itu memang sudah membudaya jadi tidak perlu kaget ketika melihat pemandangan ini. Lalu lagi-lagi mas supir yang mengantar kami langsung menyuruh menutup pintu mobil dan disuruh menunggu sejenak, dan bapak-bapak tersebut juga berhenti di spot yang ingin kami potret, well karena kekhawatiran sang supir akhirnya kami pun lagi-lagi tak jadi foto di sana , ahahhaha hari yang penuh dengan kekhawatiran yang padahal menurut saya “tidak apa-apa” jika kami memotret disana asal kami minta ijin dan pasang senyum manis kan bila perlu semua snack dimobil kami keluarkan buat warga , hihihihi yah gagal lagi potret di spot bagus.
·
WHAT TO DO : Pergilah kemana-mana
dengan orang asli setempat, akan lebih baik karena mereka yang lebih paham tentang
kultur masyarakat yang ada di sana. Lalu kalau singgah-singgah mendadak ke
spot-spot yang foto pastikan jalanan
aman dan mintalah ijin terlebih dahulu jika ada orang setempat, dan kalau ada
anak-anak atau mama-mama disana jangan lupa berikan makanan atau permen atau
sesuatu yang manis-manis. Hihihi
Dari perjalanan
ini kami lanjut ke daerah gunung susu sekitar pukul setengah 5 sore untuk
melihat kebun raya biologi wamena yang membuat saya penasaran setengah mati
meskipun gambarnya biasa saja di internet, tapi dari yang saya baca sedang
dikembangkan pohon bunga sakura di sana, ya otomatis tempat ini jadi salah satu
tempat yang ingin saya kunjungi berhubung saya belum pernah melihat bunga
sakura kan, meski sekali lagi kata mas-mas supir yang membawa bahwa daerah ini
juga cukup rawan, yah kami tetap kekeuh mau ke sana maka dengan memutar arah
yang lain sebelum masuk ke daerah kota kami berbelok ke arah sana dan saya
melihat hamparan rumput berwarna merah maroon sisa dari rumput mei menuju warna
coklat tua yang begitu mendominasi di daerah perkebunan yang merupakan tanah
milik LIPI , begitu lewat di depan gapura kebun lagi-lagi ada segerombolan
orang duduk di sana dan sekali lagi diperingati mas-masnya bahwa lebih baik
kami tidak usah turun , kami hanya numpang lewat dan akhirnya menyerah dan
kembali ke kota . well , well.. hmm baiklah
kami pulang dan beristirahat, sembari mencari tiket untuk pulang besok siang.
kami pulang dan beristirahat, sembari mencari tiket untuk pulang besok siang.
Malam harinya kami
kelimpungan karena kehabisan tiket, seperti yang saya ceritakan sebelumnya di
tulisan part.1 bahwa harus memesan tiket dari jauh-jauh hari . Akhirnya kami
harus menambah sehari lagi trip yang entahlah besok mau kemana...
HARI 3
Tidak
se-excited 2 hari sebelumnya karena hari ini kami tidak tahu mau kemana, hari
pertama kami ke arah timur, hari kedua kami ke arah barat dan hari ketiga kami
bingung, dan akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke rumah saudara saya,
beliau orang asli wamena namun semasa sekolah dan kuliahnya dulu kakak saya ini
besar bersama kami di rumah, sehingga sudah diangkat menjadi anak di rumah
kami.
Kami
berikan judul trip hari ketiga yaitu trip di dalam kota. Berusaha melihat kota
wamena lebih dekat dan interaksi yang terjadi didalamnya. Memutuskan setelah
sarapan, kami bertiga akan jalan kaki ke rumah kakak saya. Meski sedikit rawan
karena terlihat sekali kami bertiga orang baru, tapi ya namanya saja orang
nekat. Jalan kaki di pagi hari yang hangat sekali, kota yang tidak terlalu
ramai mungkin karena masih libur nasional, memotret sejenak sebuah proyek
pembangunan salib yang berada dekat dengan penginanapan kami. Setelah
meng”goggling “ dan akhirnya menyerah dan bingung dengan arah jalan yang
diberikan kakak saya akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik becak, yang
seperti seru .
·
WHAT TO DO : Pastikan bahwa tukang
becaknya paham alamat tujuan kalian. Bersiap-siaplah dengan guncangan dan
kecepatan mereka membawa becak. Siapkan uang pas sewaktu membayar.
Dua becak menjadi
transportasi kami, saya sendiri mengingat tubuh saya yang hanya muat dalam satu
becak dan 2 teman saya menaiki becak lainnya . 2 anak laki-laki berusia remaja
sepertinya masih SMP menarik becak kami, well jika kalian ingin naik becak
disini sepertinya harus bersiap-siap kaget seperti saya yang kagok naik becak
disini tidak seperti becak di jogja misalnya yangbenar-benar membiarkan
penumpangnya menikmati suasana kota, well becak disini sedikit cepat dibawa
mungkin karena kendaraan di sekitar yang juga tidak mau mengalah dan memberi
ruang sehingga becaklah yang harus menyesuaikan , lumayan kaget juga ditambah
jalan di dalam kota banyak yang rusak maka lengkaplah petualangan pagi itu.
Setelah memberi 20 ribu kakak saya memyambut di depan rumah dan membawa kami ke
rumahnya. Rumah simple dari kayu yang khas daerah pegunungan dan halaman yang
sangat luas dengan berbagai tanaman, ah.. menambah inspirasi untuk rumah masa
depan, ciyee.. ahahhaaha. Sambil makan , saya berdiskusi dengan kakak dan istrinya
maka beliau memutuskan untuk mengajak kami hari itu ke kampung istrinya. Wah,
kami sih senang-senang saja karena memang tidak punya rencana hari itu.
·
JEMBATAN KUNING dan JWW PARK
Berjarak
sekitar 10km dari kota wamena menuju Distrik Maima. Dinamakan begitu karena
memang berwarna kuning. Jembatan gantung ini menghubungkan Sogokma dengan
jajaran pegunungan Erumuliak yang panjang membentang di seberang. Saat
dilewati, jembatan gantung ini bukan bergoyang ke kanan atau kiri, melainkan
turun naik bagai gelombang. Sambil menyeberang saya beranikan melihat ke sungai
Baliem yang melintas di bawah jembatan. Airnya berwarna cokelat, arusnya deras,
dengan suara yang menderu keras.
Jembatan
Kuning ini baru dibangun beberapa tahun lalu, menggantikan jembatan lama yang putus
dan memakan korban seorang pemandu lokal dan seorang wisatawan Jepang. Saat itu
tubuh mereka langsung hilang ditelan arus sungai Baliem, tak lagi bisa
ditemukan. Beberapa bulan kemudian, keluarga wisatawan datang dari Jepang ke
Wamena, membangun semacam tiang batu bertuliskan huruf kanji di dekat jembatan.
Sebagai nisan sekaligus pengingat bagi anak mereka yang hilang.
“Dekat”
dari jembatan kuning kita akan menemui telaga biru yang berjarak 1 jam ditempuh
dengan berjalan kaki gengs, tapi sayang kami tidak kesana karena membawa anak
kecil jadi kami hanya menikmati sore hari yang syahdu di jembatan kuning yang
super fotogenik. Wamena memang setiap sudutnya fotogenik sih. Jembatan kuning
memang menjadi nyawa penyambung bagi warga setempat. Warga yang lalu lalang
dengan berjalan kaki dan menggunakan motor, hanya mobil yang tidak bisa
melewati jembatan ini, sehingga harus parkir di samping jembatan.
Di
sela – sela menikmati sore kami datang seorang tukang yang tadinya sedang
bekerja proyek jembatan di sisi lain jembatan lalu menyapa dan memberitahu
bahwa ada taman yang baru dibangun dekat sini , boleh kesana dan banyak
anak-anak lagi main bola disitu . Wah, kakak saya langsung bertanya dan kami
tanpa ragu-ragu langsung ke sana. Ternyata itu adalah kampung halaman dari
salah satu calon gubernur papua , sehingga kami iseng memberikan nama tamannya
sesuai dengan nama beliau “ JWW Park” . Saya sangat terpukau atau lebih
tepatnya udik karena sangat sangat hijaaaaaauuuuuuuuuuuu.. kalau kata orang
jawa “ ijo royo-royo” . Pemandangan memang bikin hati teduh, kami semangat
sekali dapat spot ini, dan akhirnya malah punya spot untuk menikmati jembatan
kuning dari sudut yang lain. Ah wamena memang sesuatu.
| JWW Park, Wamena |
![]() |
| Ketemu spot gereja di taman ini yang super instagramable |
Kami
menghabiskan sekitar 2 jam di jembatan kuning dan JWW Park lalu memutuskan
untuk pulang dan mencari oleh-oleh berupa buah-buahan dan sayuran untuk sanak
saudara di rumah. Sayang kami hanya 4 hari 3 malam, padahal wamena punya
ratusan spot untuk didatangi.
·
WHAT TO DO Gunakan sepatu tertutup
untuk berkegiatan di alam. Kalau pun menggunakan sandal gunung, sebaiknya
gunakan juga kaos kaki.
▪ Topi sangat berguna untuk melindungi kepala dari panas dan angin.
▪ Hujan bisa turun tiba-tiba di lembah Baliem, walaupun terkadang tak deras namun berlangsung cukup lama. Membawa jas hujan atau jaket bisa sangat berguna dan Bawalah air minum secukupnya.
▪ Topi sangat berguna untuk melindungi kepala dari panas dan angin.
▪ Hujan bisa turun tiba-tiba di lembah Baliem, walaupun terkadang tak deras namun berlangsung cukup lama. Membawa jas hujan atau jaket bisa sangat berguna dan Bawalah air minum secukupnya.
Terimakasihhh semuanya, sudah menyediakan waktu membaca petualangan saya ke lembah baliem yang indah ini. Semoga semakin menginspirasi kalian untuk segera mengunjungi spot-spot seru di Wamena.
See you in the next adventure, Wa Wa Wa
#febspiration
#explorewamena
#anwamenameke
#kuligaiadventure
Langganan:
Postingan (Atom)
-
“BACKPACKERAN MAHAL KE WAMENA ?” Part.2 Wa wa wa .. salam hangat khas pegunungan tengah Papua, kalau dapat salam begin...
-
Here it is, a couples of photo from Ilaga, What a lovely place so beautiful full of meaning from the good side and the bad side . The Ra...



























